Download

BThemes

Get A FREE Hit Counter
 
 
Senin, 11 Januari 2010

Gunung Bromo

Gunung Bromo
Kabupaten Probolinggo - Jawa Timur - Indonesia
Gunung Bromo
Gunung Bromo dari Udara
(Fotografer: Nofria Doni Fitri)
Bromo berasal dari bahasa Jawa Kuna, Brahma, yaitu salah satu Dewa dalam agama Hindu. Bagi masyarakat Suku Tengger, gunung ini merupakan gunung suci sehingga tiap satu tahun sekali diadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo, yaitu ritual melemparkan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo sebagai persembahan. Upacara ini diadakan pada tengah malam hingga dini hari tiap bulan purnama di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Melalui ritual ini masyarakat Tengger memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit.

Gunung Bromo adalah gunung aktif yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS). Taman nasional yang diresmikan oleh pemerintah pada tahun 1997 ini, memiliki lautan pasir seluas 5.250 ha dan berada pada ketinggian ± 2.100 m dari permukaan laut. Lautan pasir tersebut merupakan bagian dari sejarah ekologis terbentuknya kawasan kaldera Tengger.

Keistimewaan

Gunung dengan ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut ini terkenal karena hamparan lautan pasir dan kawah gunungnya yang luas. Dari puncak Bromo, pengunjung dapat melihat kawah yang menganga lebar dengan kepulan asap keluar dari dasarnya. Kawah ini memiliki garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Dari tempat ini pula, pengunjung dapat menyaksikan keindahan panorama hamparan laut pasir dengan siluet alamnya yang memesona.

Pengunjung juga dapat menikmati mentari terbit (sunrise), menjajaki perjalanan dengan menunggang kuda, serta menikmati hangatnya minuman dan api unggun untuk melawan hawa dingin. Di samping wisata alam, wisatawan juga dapat mengecap wisata budaya dengan mengikuti upacara Yadnya Kasada yang diadakan antara bulan Desember-Januari.

Lokasi

Gunung Bromo terletak antara Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, dan Malang, Jawa Timur. Namun, secara administratif kawasan ini merupakan bagian dari Kabupaten Probolinggo.

Akses

Gunung Bromo dapat dicapai dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Untuk menuju Gunung Bromo, pengunjung dapat menempuh dua rute. Pertama, “pintu barat” dari arah Pasuruan. Perjalanan melalui pintu barat ini terbilang berat karena tak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 biasa, kecuali dengan menyewa jeep. Lewat jalur ini wisatawan biasanya memilih berjalan kaki dari Desa Wonokitri menuju Gunung Bromo dengan jarak sekitar 13 km.

Kedua, melewati “pintu utara” dari arah Probolinggo. Melalui pintu kedua ini, wisatawan dapat menggunakan kendaraan apapun, termasuk mengendarai sepeda motor karena jalan yang dilalui tidak terlalu curam. Jika wisatawan ingin menyaksikan lautan pasir, maka disarankan untuk melalui pintu utara. Sebaliknya, jika yang diinginkan adalah menyaksikan sunrise, maka lebih praktis melalui pintu barat.

Desa terdekat untuk mencapai Bromo dari arah Probolinggo adalah Cemorolawang (±45 km dari Probolinggo). Desa ini bisa ditempuh dengan menggunakan angkutan umum dari Probolinggo. Dari Cemorolawang menuju Bromo pengunjung dapat menyewa kuda, jeep, atau berjalan kaki.

Harga Tiket

Masih dalam konfirmasi.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Selain berjalan kaki, untuk memudahkan pendakian para pendaki dapat menyewa “ojek” kuda dan kendaraan jeep. Karena temperatur udara berkisar antara 2-20 0C, maka pengunjung juga dapat menikmati minuman serta api unggun yang disediakan oleh warung-warung kecil di sekitar lokasi. Jika terpaksa menginap, jangan khawatir karena berbagai penginapan dengan berbagai tipe mulai dari shelter, losmen, hingga hotel tersedia di sekitar Bromo. Berbagai macam rumah makan, warung telepon, souvenir shop, mupun MCK umum juga tersedia di tempat ini.

Untuk sampai ke puncak Bromo telah disediakan tangga dari beton.

Baca Juga Artikel yang Lainnya!

0 comments:

Poskan Komentar

Get Updates Via E-Mail!

BTricks

 
10 March 2011 - 18:57 IMT
© 2011 Copyright www.jethornet.com Themes By Aditya Bhaskara